127 Hours dan kenangan sebagai penguat







Mungkin saja penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan penderitaan orang-orang yang telah merasakan penderitaan luar biasa. Tak satupun dari kita menginginkannya, hanya saja, kehidupan memang selalu diwarnai seperti itu. Sebagaimana orang bijak mengatakan, Hidup ini tak lepas dari cobaan dan ujian, anda berada dalam posisi yang kaya, sehat, namun tidak sedikit dari mereka yang menderita dan tidak bahagia. Begitu juga orang-orang miskin yang setiap hari di jalanan bertarung dengan panasnya roda-roda jalanan kehidupan. Ada yang bahagia tapi lebih banyak yang menderita. Atau yang lebih parah, tanya saja kepada Jean Dominique Bauby [Le scaphandre et le papillon -2007] , Gambaran kasarnya seperti ini : “Badan anda di ikat dengan rantai yang besar lalu mulut anda disumpal, dan dicelupkan di tengah lautan yang dalam, tapi tidak mati, hanya diam tak berkutik.

Di Menit ke 16 itulah, Aaron Ralston [James Franco] pertama kali dalam sepanjang hidupnya, mulai merasakan titik rendah penderitaan dalam hidup. Saya masih ingat, dahulu, tangan saya terjepit pintu yang tidak sengaja di tutup kencang oleh sepupu. Tidak hanya tangan saya yang berdarah, tapi saya menangis begitu saja, plus beberapa hari saya tidak bisa bebas mengerakan jari-jari kanan ini. Ah, saya terlalu naïf, menggunakan analogi disparity antara kejepit pintu dengan batu berton beratnya. Tatapan mata Aaron Ralston di menit itu, seolah mengisyaratkan ia sedang berhadapan dengan kematian. Setelah menikmati petualang, berenang bersama kedua wanita, melewati lorong-lorong indah nan terjal dan sempit di Bukit Canyon, batu besar itu tidak mau melepaskan tangan kanannya. Dan disinilah sebenarnya cerita bermula. Menit enam belas hingga satu jam seperempat kedepan, kita diajak berpetualangan.

Hanya saja, untuk mentransformasikan cerita kesendirian Aaron Ralston kedalam sebuah layar tidak semudah saat seorang tokoh cerita itu diberikan ruang yang luas. Chuck Noland [Castaway 2000] bisa bebas mengekpresikan kesedihan dan kesendirian di pulau yang luas. Pun kisah nyata Aaron ini juga tidak bisa di aktualisasikan sangat banyak seperti halnya adventurer Chriss Mccandless [Into the wild 2007] mengelilingi dunia. Pesona Danny Boyle, sebagai salah satu Auteur yang terdepan generasi sekarang. Mengadaptasi sebuah novel otobiografi Karya Aaron sendiri, berjudul “Betwen a Rock and a Hard place”. Ia memunculkan kembali imajinasi Claustrophobic a la Danny, sebagaimana karya-karya luar biasa sebelumnya, sebut saja Trainspoting, Beach, 28 days later, hingga Slumdog Millionare. Ia tidak terjebak pada satu penuturan saja. Justru, One Man Show- James Franco, dalam jepitan dan kesendirian itu ditemani Handycam, sebotol air, dan barang-barang lain yang tersisa menghadirkan sebuah cerita yang tidak biasa. A Survival.

Sejenak mengingat, saat saya sakit demam, Ibu saya duduk disamping dan memberikan sentuhan tangan luar biasa. Tangannya yang lembut memegang dahi saya, dan saya tersenyum seketika. Nyaman, sesuatu yang kini terasa mahal. Saat kini hidup jauh dari mereka, yang terkadang menderita dan berbahagia sendiri. Memang benar, seperti yang pernah saya alami, orang-orang yang kita cintai disekitar kita hampir selalu hadir dalam kemasan indah imajinasi kita disaat mengalami kesedihan dan penderitaan. Jelas ini bukan asumsi saya semata, Takeshi Maekawa pun mencoba mengangkat imajinasi kenangan ini lewat ‘manga’ miliknya. Karakter utama Chinmi [Tekken Chinmi], berkali- kali dia hampir menemui ajal. Saat malam hari, di tengah-tengah laut dan diseret oleh ikan hiu yang luar biasa besar, atau saat badannya yang sudah tidak berdaya dan hampir mati ditangan musuhnya, saat itu pun ia mengingat orang-orang yang dicintainya, termasuk monyet kecil peliharaanya, akhirnya ia keluar dari tekanan luar biasa itu. Dan Dany Boyle tahu caranya mengambarkan kerinduan Aaron, yang menurut pendapat saya, sangat-sangat berhasil.

Tentu saja untuk selanjutnya, saya tidak hendak memberikan detail elemen cerita perjalanan pendaki ini selama “127 hours” termasuk adegan disturbing di bagian terakhir juga pesona music score indah AR.Rahman dan lagu yang kata orang serasa bikin hidup kembali, Festival-Sigur Ros. Karena Tagline film ini sebenarnya sudah menjawab pesan esensi dari film; “There is no force more powerful than the will to live.“




127 Hours  
8.5/10
Read more

One second review : District 9



I saw District 9  and I will started out by saying.....WOW! I mean seriously WOW! This movie is incredible, and unlike anything I have ever seen in my life. The special effects were awesome, the action was really neat, and overall it was a fun, action-packed sci-fi thriller that all lovers of the genre should see. This movie is really really something else it is just genius and very very original, forget all the aliens movies you saw this is the one to see, it is The Best of The Best Alien movie of this time, see it now!


District 9 (2009)
8.7/10
Read more

One second review : FIRAAQ



FIRAAQ is one of the finest docu-dramas made in India. It's disturbing. It's powerful. It's thought-provoking. A film for the discerning viewer who likes to go beyond the stereotype. Here's a film that must be seen not because it tells a story that touches every life. But because it touches our lives with such persuasiveness without resorting to overstatement.

Firaaq (2008)
8/10
Read more

One second review : 'Mother'



This murder mystery/psychological drama is about a young man who appears to be somewhat mentally challenged (somewhat autistic?) who is accused a murdering a teenage schoolgirl in a village in South Korea. His mom, in a fairly stellar performance by Kim Hye-ja, sets out to prove his innocence by doing detective work, as the police think its an open and shut case. What makes this film stand alone is its tenacity. It doesn't let you go, it keeps on trying in the form of the mother attempting to follow every trail. Its a great premise and you are kept guessing throughout. You may be slightly put off by the unusually close nature of the relationship between mother and son, but director Bong Joon-ho (The Host, Memories of Murder), who is probably on the short list of excellent contemporary directors from Asia, keeps the main focus on the core story, the mystery. Highly recommended.



-=(0)=-


 Film : Madeo (2009)

Rate 8.5/10
Read more

One second review : Cairo Time





Cairo Time is beautifully filmed...
.... I adored the slower pace of the movie because it felt like it gave me a chance to breathe, to enjoy the gorgeous scenery, and sink into the feeling of the movie.
The movie is visual poetry, it was heartbreaking, yet completely satisfying.

-=(0)=-

Cairo Time 2009
a Film By Ruba Nada
My Rate : 7,5/10
Read more

.:: Two Great Films on Typography ::

Typography is the art and technique of arranging type, type design, and modifying type glyphs. Type glyphs are created and modified using a variety of illustration techniques. The arrangement of type involves the selection of typefaces, point size, line length, leading (line spacing), adjusting the spaces between groups of letters (tracking) and adjusting the space between pairs of letters (kerning).

Typography is performed by typesetters, compositors, typographers, graphic designers, art directors, comic book artists, graffiti artists, and clerical workers. Until the Digital Age, typography was a specialized occupation. Digitization opened up typography to new generations of visual designers and lay users.(wikipedia)




I









William Wallace - Braveheart












This Typography is based on Dialog Scene betwen William wallace and his mans of scotland.







Film Braveheart 1995













II








Joker - The Dark Knight 




Why SO SERIOUS!!







Film The Dark Knight (2009)






Read more

One second review : Alangkah Lucunya Negeri Ini



Indonesia memang negeri lucu kawan...

sungguh, negeri ini saat ini benar-benar lucu...


saat pak presiden sering sekali curhat dan (bahkan) terkena narsis akut...

atau para pak polisi yang lebih senang menjilat pantat amerika dengan menangkap yang 'katanya teroris' ketimbang menyelidiki rekening buncit hingga koruptor-koruptor sampah berseleweran di negeri ini...


ah, sudahlah...aku bosan dengan carut marut negeri ini...aku hanya ingin memperbaiki negeri ini sebatas aku mampu...


untungnya, Musfar Yasin dan Dedi Mizwar, dua orang yang sangat hebat, bisa merangkai sebuah film luar biasa, yang wajib di tonton oleh seluruh penghuni negeri lucu ini...(yah, kita dan anda semua)


alangkah lucunya (negeri) ini, kelucuan-kelucuan yang lainnya terhadirkan disini.



-=(0)=-

Alangkah Lucunya Negeri ini - 2010
a Film by Dedi Mizwar
writen by Musfar Yasin
My Rate : 8,5/10
Read more

.:: My Top 5 Best Short Films : Part 1 ::.


Over the last century, cinema has played an increasingly important role in popular culture, combining visual media, soundtrack, and dialogue to mix together three of the biggest components of art: visual art, music and prose. However, with all the attention given to feature length films, short film is often overlooked. These tiny little gems tell marvelous stories in a distinctly short time, making them the visual equivalent of a good short story, a small morsel that can really be viewed and appreciated without devoting hours of your time.  
In my opinion,  This is the list best in short film. 


  :: 10 minute :: 

it was my favourite short film. It is a very moving, brilliantly filmed film, the majority of which is filmed in one, long take. You will think about this film long after its conclusion.




 :: The Story of Sign  ::

A simple, heart-warming Spanish short film. This is guaranteed to put a smile on your face, no matter how bad a day you’ve had. It’s simplicity is its hook, it has no fancy techniques, just a tale to tell. 




 :: Kiwi ::

The story of the little bird that could (not entirely unlike the little country that could it originates from) this follows the plight of a kiwi, and shows that even the biggest of dreams can be realized. This is my favorite animated short by far. 





:: Sign ::

Ah, Love Makes Different!! 





:: Two Solution for One Problem :: 

Kiarostami's solution for the problems of the world!

 



Bersambung ...
Read more

Impian Jhon Bauby



Dalam kehidupan, untuk menjadi orang sukses, atau meraih apa yang kita inginkan, kita tak perlu harus selalu menjadi diri yang sempurna. Karena letak dari inti itu semua adalah, kesungguhan, kesabaran, seta kerja keras yang mesti ditempuh walaupun itu harus melewati berbagai macam kesulitan luar biasa. Dan bisa dibayangkan, jikalau sesuatu yang kita impikan selama ini, ternyata tiba-tiba harus tertunda atau gagal, disebabkan oleh sesuatu yang memang tidak terduga akan menimpa diri kita, seperti ditimpa musibah, ataupun memang sejak awal sudah terkena penyakit, hingga cacat seluruh jiwa raga kita. Dan, sejarah telah mencatat, bahwa, imposible is nothing dalam hidup ini, mari kita melihat bahwa Thomas alfa edhison adalah orang paling bodoh dimasa mudanya, dengan seribu kegagalannya, namun akhirnya menjadi perintis ‘lampu’ yang terus menerangi kegelapan malam sampai sekarang, Hellen Keller, seorang Deaf dan Blind sejak kelahirannya, merasakan kegelapan dan kengerian luar biasa di masa kecilnya, sehingga tiada teman yang menemaninya selain kegelapan, sampai pada suatu saat, sang guru tercintanya datang, bersungguh-sungguh, membuat sebuah keajaiban dengan ‘menghidupkan’ jiwa kemanusiaan sesungguhnya dalam diri Hellen keller, sampai suatu saat sang ‘deafblind’ ini menjadi orang besar di zamannya, dengan kata-kata emasnya yang terkenal; ”alone, we can do so little, together, we can do so much!”.

Dan Jhon Dominique Bauby, seorang yang sudah cukup terkenal, harus mengalami penyakit stroke di tengah kebahagiaannya, sampai seorang Ahli neurology memvonisnya terkena “a cerebrovascuIar accident’, maka, yang terjadi adalah sebuah harapan, yang tidak menyebabkan langsung kematian. Adanya kerusakan otak dengan sumsum tulang belakang, sehingga tidak bisa menggerakkan seluruh badan, sampai berbicara. Yang bisa dilakukan hanya Cuma mengendap-ngendipkan mata sebelah kirinya, dan tentu saja dengan otak yang masih bekerja. Maka inilah pekerjaan Jhon Bauby, hanya melihat dan berbicara dengan dirinya sendiri, ibarat seorang penyelam yang hidup dalam lautan yang dalam, lalu diikat kedua tangannya, kakinya di beri beban yang berat, serta leher yang terasa dicekik, dan dalam kondisi kegelapan air itu, ia Cuma bergerutu dan bergerutu dalam hatinya.

Sampai munculah kedua perawat cantik Henriete dan Marie yang baik hati, mantan istirinya, anak anak tecintanya, serta seorang editor penulis yang sabar dan baik hati, ingin mencoba membantunya keluar dari krisis ini, Maka dalam kondisi menyedihkan inipun, Jhon Domiuw bauby terkadang merasa berada di surga karena dukungan luar biasa dari orang orang itu. maka dalam berbagai macam bentuk imajinasi, fantasy dan kesenangan dunia ia coba munculkan dalam bentuk khayalan dan angan angan, tengoklah ketika ia menginginkan makan makanan yang lezat, ia hadirkan lewat fantasy sedang berduaan dengan kekasihnya menjamu berbagai macam makanan dalam restoran terkenal, atau ketika ia berfantasy di pesisir pantai, kenangan bersama ayahnya, sampai bermimipi kembali membangun keluarga. Dan itu semua hanya ada dalam khayalannya, karena yang ia bisa lakukan dalam dunia real hanya satu kedipan berarti “iya” dua kedipan berarti “tidak”. itulah komunikasi yang ia lakukan sepanjang harinya, Dan dalam kedipan-kedipan dihadapan huruf E, S, A, R, I, N... ia merasakan kebahagiaan, sesekali lucu, sampai ia pun ternyata seorang manusia biasa yang putus asa dalam deritanya sehingga apa yang diinginkan adalah sesegera kematian itu cepat menghampirinya. Namun, sekali lagi dalam kedipan matanya di hadapan huruf-huruf tadi, ia berhasil menjadi seseorang yang luar biasa melewati kesulitan hidupnya hingga mencapai titik final kesuksesan dunianya.

Jika orang-orang berpenyakit saja mampu mengguncang dunia, kenapa orang sehat seperti kita tidak? Dan film inilah sebenarnya yang benar-benar kita butuhkan di indonesia, agar kelak, orang orang ‘pesakitan’ yang selalu membuat film-film tidak jelas arah tujuannya, menjadi jelas! Bahwa, film juga bisa mejadi media visualisasi yang menguncang spirit seseorang menjadi lebih baik, bukan sebaliknya!
Read more

The Chaser is the best thriller!




Untung nya, selama saya berkenalan dengan dunia korea, terlebih dunia sinema dalam 3 tahun ini, saya disuguhi berbagai macam kepuasan luar biasa yang saya rasakan setelah menonton film-film korea selama ini. film-film komedi, maka film korea menjadi tempat saya untuk berteriak tertawa dan bahagia, film romantis, maka film korea menjadi bagian dari saya sedikit belajar tentang cinta, film-film thriller, maka film korea terkadang membuat saya merinding dan geleng geleng kepala, dari jaman My Sassy girl, Happy killing, The way home, Spring summer fall winter, The Host, 18 Mei, sampai paling fenomenal OLdBoy n Memories of Murder, adalah serangkaian bahwa bukti korea termpat terdepan dalam industri sinema di Asia. dan dalam sejarah tradisi film film seperti se7en, The Silence of the lamb, Infernal affairs, hingga cerita kengerian Ryan si homo tukang jagal dari indonesia itu, maka film The Casher, mempunyai tempat tersendiri untuk disebut 'Disertasi Summacumlaude''. Kelambatan & kebodohan kerja polisi, prostitusi, ex-cop germo ulung nan tangguh, Tukang jagal (atau tukang palu) The killer, impotensi, art, children, dan rasa kemanusiaan menjadi sesuatu hal yang sanggat menarik dikemas dalam cerita yang terasa biasa namun terasa berbeda. inilah untuk kesekian kalinya, saya menemukan gairah mencekam yang luar biasa, percaya atau tidak film ini bahkan sesaat setelah saya menontonnya, saya ikut terlibat dalam cerita menggerikan ini didalam mimpi.

Saya tidak akan menceritakan ceritanya secara detail, karena percayalah, sedikit anda tahu tentang cerita The Chaser, semakin menikmati anda menontonnya. dan yang lebih menakjubkan, bahwa ini adalah debut film pertamanya dari sutradara Na Hong-jin. Kim Yun-seok sang lelakon dalam film ini, terasa berada di level teratas semenjak sebelumnya ia memerankan salah satu penjahat menggerikan dalam film Tazza : the High rollers.
Read more

Geleng-geleng dengan Serdadu Anjing



Kini sudah jelas, bahwa Quentin Tarantino dalam film ini adalah sebuah ciri khas dari kelanjutan film-film ia selanjutnya, ambil contoh pulp fiction sampai kill bill. Cerita yang sebenarnya simple, dengan banyak macam karakter, namun dari cerita yang sanggat simple itu, ia beberkan dengan Opening yang fun, lalu menjadi sebuah kisah dengan dialog-dialog super sulit, karakter yang kuat, gaya penceritaan yang detail, sense of humor yang esotoris,sampai kejadian sadism dan absurd ada didalamnya. Reservoir Dog barangkali menjadi pertaruhan pertamanya sebagai filmaker yang konon bakal disebut sebut sebagai filmmaker jenius.

Joe, sang bos perencana bertubuh mirip ‘thing’ Fantastic 4 ini, disertai anaknya edie dan segenap kawan kawan lainya yang tak bernama sebutlah ada Mr.White yang keayahan, Mr.Blonde si psikopat cool na gila, -Mr.Blue, Mr,Brown-, Mr,Orange yang lincah, sampai Mr.Pink yang rada-rada aneh dan paling beruntung. Bekerja sama dalam satu rencana; mendapatkan Diamond. Namun selain usaha mereka gagal karena ternyata sedikit demi sedikit kecurigaan mulai terungkap. Bahwa rencana mereka ini telah di set up sedemkian rupa, sehinga sebagian dari anggota mulai saling menuduh siapa dibalik semua itu.

Gaya penceritaan yang benar benar klasik dengan tempo lambat, lebih mengedepankan dialog, jarang saya temukan dalam film film lain yang saya tonton. Agak membosankan memang pertama-tama ditambah dengan dialog yang mengerenyutkan dahi, namun akhirnya film ini selesai saya tonton karena banyak hal tak terduga didalamnya.
Read more

Fargo



So that was Mrs. Lundegaard on the floor in there?
And I guess that was your accomplice in the wood chipper.
And those three people in Brainerd.
And for what?
For a little bit of money.
There's more to life than
a little money, you know.
Don't you know that?
And here you are...
...and it's a beautiful day.
Well...
I just don't understand it....

Satu perbedaan yang paling mencolok film ini dengan No country for oldman adalah, kesederhanaan dalam penceritaan, dan ini sanggat kuat sekali, tanpa berambisi besar. Namun, bagi saya ada 1 hal yang paling absurd, seorang polisi wanita hamil tua memburu penjahat di padang salju, namun absurd di tangan Coen bersuadara menjadi sebuah kompleksitas luar biasa.
Read more

:: Sedikit Mengenal Kasou Taishou ::



Beberapa tahun yang lalu, atau tepatnya saat saya sedang duduk di bangku SMU, ada satu acara show menarik dari jepang yang di siarkan oleh salah satu siaran televisi di indonesia. tadinya saya tidak menyukai acara ini, berhubung saat itu adik sayalah yang sering menonton, mau tidak mau saya pun melihat. Dan ternyata, acara tv show ini benar-benar unik, bernama "Kasou Taishou".

Kasou Taishou ini sebenarnya sebuah ajang klasik, yang sudah di perlombakan di jepang sana dari tahun 1979. kompetesi amatir ini menampilkan lomba sandiwara pendek yang dilakukan oleh para pengikut ajang ini, dimana dalam satu tim itu terdiri dari beberapa orang. biasanya di lakukan dengan pakaian hitam dan menampilkan 'spesial efek' dengan cara mereka, dan tentu saja dinilai oleh para juri. setelah menampilkan atraksi dari satu kelompok, biasanya para juri memberikan nilai, dari satu hingga angka 20. tim yang berhasil meraih angka 20 mendapatkan juara, sedangkan tim tim yang berhasil di atas 15 mendapatkan medali penghargaan.

Karena beberapa hari ini secara tidak sengaja saya menonton kembali acara lama ini di situs youtube, dan ternyata masih sanggat menarik untuk selalu di ikuti. dan mungkin yang fenomenal dari peserta adalah, tim tenis MATRIX Style yang sempat membuat orang orang berdecak kagum.

berikut beberapa video Kasou Taishou


Mengenang Sejarah 30 tahun acara ini 



:: Tim Matrix Style ::



:: Olympic Games :: 


:: Shoes ::


:: Washing Machine ::


:: Karate ::



:: Clock ::



:: Saolin Soccer ::


dan masih banyak lagi, silahkan di cari di youtube...




Read more
 

Scent of a FiLM